Pasukan marinir TNI AL turun dari Ranratfib BTR-50P
pada latihan perang Armada Jaya ke-27 di Pantai
Banongan, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur,
Sabtu (2/2). Pada latihan perang itu lima anggota
Marinir tewas tenggelam saat menggunakan
tank amfibi.
PANSER BTR 50 PM
milik Marinir mengalami kecelakaan di perasiran Situbondo, Sabtu (2/2).
Nama BTR 50 PM adalah singkatan dari Browne Transporter 50 Palawa
Modification. Benarkah kendaraan ini mengalami berbagai macam
mofifikasi?
MENDARATKAN
kendaraan tempur ke daratan, bukan persoalan mudah. Lebih-lebih jika
ranpur tersebut keluar dari kapal pengangkut tank (LST-Landing Ship
Tank). Sebelum, pintu LST dibuka dan panser-panser menceburkan diri ke
laut, butuh persiapan khusus. Misalnya, kondisi mesin harus benar-benar
prima. Jika tidak, maka panser amfibi akan menjadi rumpon di laut. Belum
lagi sistem propulsi di air, juga harus sehat, termasuk sistem
water-jet, gerakan rantai, dan baling-baling.
Belum
lagi, bagian roda dan pintunya harus selalu diberi gemuk. Kalau tidak,
maka air dengan mudah masuk ke dalam kabin. Untuk itu, satu unit ranpur
angkut personel BTR-50 membutuhkan 20 kilogram gemuk, ketika kendaraan
itu tengah mengikuti latihan tempur. Tidak hanya itu saja. Agar air tak
merembes masuk ke dalam kabin, maka kendaraan lapis baja semacam ini
harus dilengkapi dengan empat pompa --pompa penghisap air yang bisa
dioperasikan baik secara elektrikal maupun mekanikal.
Namanya
juga ranpur, soal interior juga jelas beda dibanding kendaraan biasa.
Urusan ruang gerak misalnya, pada ranpur APC (Armour Personel Carrier)
ruang gerak dalam kabin amat terbatas. Selain itu ada lagi aturan yang
mesti dipatuhi penumpang, tangan tak boleh usil saat ranpur tengah
berlayar. Mengapa? Di dalam kabin, banyak panel-panel yang berhubungan
dengan sistem kerja propulsi. Kalau pakem ini dilanggar maka, bisa jadi
tank akan tenggelam.
Secara
umum, operasi pendaratan digelar pada jarak antara 2.000 hingga 3.000
mil dari tepi pantai. Satu unit kapal pendarat (LST) bisa dijejali
sekitar 15 unit ranpur. Komposisi kendaraan tempur juga bervariasi,
tergantung kebutuhan.
Belum
lagi waktu pendaratannya. Namanya operasi militer, maka gerakan operasi
amfibi biasanya digelar di pagi buta . Setitik cahaya --lampu-- jelas
diharamkan karena bisa mementahkan unsur pendadakan. Hasilnya, selain
radio komunikasi, agar tak terjadi tabrakan antar ranpur maka diandalkan
semacam fosfor sebagai penandai antar ranpur. Masih untuk urusan yang
sama, tiap ranpur yang keluar dari perut LST diberi jeda waktu sekitar
satu menit. Saat menyentuh daratan, maka sistem propulsi yang dipakai
berubah --gabungan antara water-jet dengan putaran roda rantai.
Ranpur
APC BTR-50 P/PK dikenal dengan sebutan Pansam (panser amfibi). Ranpur
BTR-50 bukanlah lansiran anyar. Di negeri asalnya, Uni Soviet (kini
Rusia), kendaraan ini masuk dinas operasional tahun 1955.
Awalnya,
kabin berkapasitas 20 orang pasukan bersenjata lengkap tak punya
penutup atas. Baru pada tahun 1960 dengan alasan guna mendongkrak
proteksi penumpang maka varian BTR-50 PK dilengkapi tutup kabin (hatch).
Varian terakhir inilah yang sampai sekarang dipakai Korps Marinir.
Kendaraan
BTR-50 ini berkapasitas solar penuh (full tank) sekitar 260 liter dan
memiliki kemampuan melakukan penjelajahan menempuh jarak 260 km. Satu
liter solar, mampu mendorong sejauh 1 km dengan kecepatan 44 Km per jam.
Itu kalau berada di jalan raya. Sedangkan di medan off-road,
kecepatannya 25 Km per jam.
Bagaimana
kalau di laut? Panser ini mengandalkan dua unit water-jet. Kedua
piranti ini sanggup menghela badan ranpur dengan kecepatan 10 Km per
jam. Uniknya, kendaraan ini bisa juga berenang mundur pada kecepatan 5
Km per jam. Selain itu BTR-50 mampu menerjang ombak berketinggian
maksimal 1,5 meter.
BTR-50
masuk jajaran organik Marinir tahun 1962. Pengadaannya waktu itu
dilakukan sebagai bagian persiapan Operasi Trikora. Keandalannya kembali
teruji dalam berbagai operasi militer pasca Trikora, termasuk Operasi
Seroja (1975/79).
Untuk
memperpanjang usia pakainya, BTR-50 tak lagi mengandalkan komponen
orisinilnya. Sebab, pasca Peristiwa G-30S, suku cadang mendadak jadi
langka. Alhasil perombakan lumayan besar diterapkan pada jeroan BTR 50.
Menu utama perombakan adalah soal dapur pacu. Mesin diesel yang tadinya
tipe V 6 asli Rusia, diganti dengan GM 6V-92T diesel keluaran AS.
Ada
juga beberapa bagian BTR-50 yang kena rehab, misalnya perangkat
komunikasi dan senjata. Kabin yang tadinya dijejali radio komunikasi
tipe RT.10, asli Rusia diganti dengan tipe ANVRC 64 asal AS. Komunikasi
dengan pesawat mengandalkan tipe PRC 33, juga buatan AS. Untuk senjata
utama (main weapon) senapan mesin PKT telah kedudukannya oleh senapan
mesin GPMG kaliber 7,62 mm buatan FN Belgia. Sebanyak 1.800 butir peluru
FN biasanya dibawa BTR-50 dalam operasi tempur.
Panser
amfibi ini sering dilibatkan dalam sebuah operasi. Biasanya, kendaraan
ini memuat 16 orang personel, ditambah tiga orang kru. Ketiga kru
tersebut adalah komandan kendaraan, pengemudi, dan penembak. Selain itu,
juga dilengkapi oleh dua jenis senjata. Sayangnya, kendaraan ini tidak
ada air conditionernya.
Saat
bergerak di darat, roda dan rantai digerakkan oleh dua tangkai kemudi
yang ada di kiri kanan pengemudi. Bila tangkai kanan ditarik, rantai
kanan akan berhenti dan panser belok ke kanan. Begitu juga sebaliknya.
Sedangkan kalau bergerak ke depan, pasukan tinggal menginjak pedal gas
dan kopeling. Uniknya, tidak ada pedal rem. Untuk mengerem, cukup
ditarik dua tungkainya. (Persda Network/ Achmad Subechi/Berbagai Sumber)
DATA TEKNIS BTR-50 P
Dimensi:
Panjang 7,07 meter, Lebar 3,14 meter, Tinggi:2,15 meter, Bobot/Berat
kosong 14,5 ton, Berat siap tempur: 16,5 ton. Daya angkut: 2,5 ton.
Kemampuan lintas alam : Kemiringan maks tanjakan : 38 derajat, Rintangan
tegak: Setinggi 1,1 m; Parit; selebar 2,8 m. Kecepatan jalan raya: 44
km per jam, di air: 10,2 km per jam.
(Sumber KOMPAS)